Ubah Masalah Jadi Berkah, SDN Tanjungrejo 1 Kota Malang Sukses Terapkan Inovasi "KOMPOR DARING"
![]() |
| Foto Dokumentasi Pengaplikasian KOMPOR DARING ke tanaman |
MALANG – Rindangnya pepohonan di lingkungan sekolah kerap kali menyisakan satu permasalahan klasik: tumpukan sampah daun kering yang tak kunjung habis. Namun, hal berbeda justru terlihat di SDN Tanjungrejo 1 Kota Malang. Lewat inovasi brilian bertajuk KOMPOR DARING (Kompos Organik Daun Kering), sekolah ini berhasil menyulap limbah daun menjadi pupuk organik berkualitas tinggi yang bernilai guna.
Lahirnya KOMPOR DARING tidak terlepas dari keprihatinan
pihak sekolah terhadap praktik pembakaran sampah terbuka (open burning)
yang kerap memicu polusi asap dan mengganggu pernapasan siswa saat belajar.
Selain itu, inovasi ini menjadi langkah proaktif SDN Tanjungrejo 1 dalam
merespons isu kelebihan kapasitas di TPA Supit Urang, Kota Malang.
"Sebagai sekolah yang peduli lingkungan, kami sadar
bahwa menyerahkan urusan sampah daun ke TPA atau membakarnya bukanlah solusi
yang mendidik. Dari situlah kami menggagas KOMPOR DARING. Akronim ini sengaja
kami pilih agar terdengar modern, kekinian, dan mudah diingat oleh
anak-anak," ungkap Bagus Setiyowibowo, S.Pd.,MM selaku Kepala Sekolah SDN
Tanjungrejo 1.
Berbeda dengan sistem komposter konvensional yang sering
kali berbau busuk, KOMPOR DARING dirancang menggunakan metode aerob dalam tong
plastik modifikasi. Daun-daun kering yang berguguran di halaman sekolah
dikumpulkan, dicacah, lalu difermentasi menggunakan cairan aktivator EM4 dan
tetes tebu. Berkat sirkulasi udara yang terjaga di dalam tong, proses
pembusukan berjalan optimal, bersih, dan sama sekali tidak menimbulkan bau
tidak sedap.
Dalam kurun waktu empat hingga enam minggu, daun-daun kering
tersebut berubah menjadi "emas hitam"—pupuk kompos yang gembur,
berwarna gelap, dan berbau segar khas tanah hutan.
![]() |
| Foto Dokumentasi mengikuti Pameran BAZAR |
Bukan Sekadar Inovasi Alat, Tapi Laboratorium Karakter
Nilai kebaharuan (novelty) dari KOMPOR DARING di SDN
Tanjungrejo 1 terletak pada pelaksanaannya yang mengintegrasikan program
Kurikulum Merdeka, tepatnya pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
dengan tema Gaya Hidup Berkelanjutan.
Siswa tidak lagi sekadar menjadi penonton atau menyerahkan
urusan kebersihan sepenuhnya kepada petugas kebun. Melalui sistem piket yang
terstruktur, para siswa secara langsung bertugas mengumpulkan daun, menyiram
cairan aktivator, hingga memanen kompos.
![]() |
| Foto Dokumentasi Pencacahan Daun Kering |
"Anak-anak kini belajar biologi dan kepedulian
lingkungan langsung dari alam, bukan cuma dari buku teks. Mereka melihat
sendiri bagaimana sampah yang awalnya dianggap kotor, ternyata bisa menjadi
pupuk penyubur tanaman di taman sekolah kita," tambah pihak sekolah.
Dampak inovasi ini pun langsung terasa. Selain udara sekolah
yang kini terbebas 100% dari polusi asap pembakaran, manfaat dari “emas hitam”
ini tidak hanya dirasakan di ranah internal. Kompos hasil panen siswa tersebut
telah dikemas secara profesional dengan label khusus dan sukses dipamerkan pada
ajang Panen Karya P5 sebagai wujud nyata keberhasilan edukasi kewirausahaan
siswa. Lebih dari itu, sebagai bentuk pengabdian dan ajakan peduli lingkungan,
pupuk organik KOMPOR DARING ini juga telah dibagikan secara langsung kepada
warga di sekitar lingkungan sekolah.
![]() |
| Foto Dokumentasi pemberian KOMPOR DARING kepada warga sekitar |
Keberhasilan program KOMPOR DARING ini tidak hanya menjadi
portofolio kuat bagi SDN Tanjungrejo 1 dalam menyongsong penghargaan Sekolah
Adiwiyata, tetapi juga menjadi sumbangsih nyata dari dunia pendidikan dalam
menjaga identitas Malang sebagai kota yang bersih, sejuk, dan ramah lingkungan.
Sebuah langkah kecil dari sudut sekolah, untuk kontribusi besar bagi bumi.


.jpeg)

No comments